Berita

Beranda » Berita » Dipakai Tambak dan Pemukiman, Banyak Lahan Tahura Rusak

Dipakai Tambak dan Pemukiman, Banyak Lahan Tahura Rusak

September 28, 2015

TANAM BAKAU – Personel DKPH, AGP, dan masyarakat, sesaat sebelum menanam bibit bakau di bekas lahan tambak mongering di Tahura Sanggaran, Pedungan, Densel, Sabtu (26/9) lalu. Selain menanam, mereka juga bertekad memelihara bibit tersebut supaya tumbuh dengan baik di masa mendatang.

 

Pedungan, Denpost - Kondisi hutan bakau (mangrove) di Taman Hutan Raya ( Tahura ) di kawasan Serangan, Pedungan Densel, kini cukup memprihatinkan. Kerusakan di wilayah pesisir Benoa ini sebagian disebabkan pembukaan ekosistem mangrove untuk tambak pemukiman, dan lain-lain.

            Ketua Forum Peduli Mangrove (FPM) Bali Heru B. Wasesa mengatakan hal itu saat Bulan Bhakti Karyawan Discovery Kartika Plaza Hotel (DKPH), Sabtu (26/9) lalu.

            Memperhatinkan kondisi tersebut, tambah Heru, maka perlu secepatnya di lakukan upaya perbaikan lingkungan pesisir, salah satunya menanam bibit bakau secara berkelanjutan. Dia sekarang lebih semangat mengingat gerakan personel FPM menanam dan merawat hutan bakau Tahura membuahkan hasil. Dari 10 ribu bibit bakau yang ditanam selama ini, sekitar 5.000 tumbuh dengan baik. Usianya antara satu tahun hingga dua tahun.

            Menurut Heru, beberapa areal Tahura di Pedungan ( dekat TPA Sampah Suwung ) awalnya di gunakan untuk tambak udang oleh warga. Bahakan sampai sekarang masih ada kolam ikan di sekitar Suwung yang dimanfaatkan warga.

            Setelah diadakan penghitungan ulang oleh pemerintahaan, areal tambak di Tahura Pedungan ini ternyata setengahnya melewati batas yang ditentukan. Maka dai itu pascadiadakan mediasi oleh UPT Tahura dan FPM maka warga dengan sukarela menyerahkan sebagian lahan tersebut untuk ditanami pohon bakau.

            Heru juga mengungkapkan, untuk saat ini dan masa mendatang, FPM mengubah strategi dari penanaman bibit bakau menuju perawatan/pemeliharaan. Itu artinya, bibit bakau yang ditanam selama ini mesti dijaga dan di rawat dengan baik sehingga bisa tumbuh subur dan berkembang. Langkah berikutnya FPM menekankan pada peduli karya dan relawan. Dalam kaitan ini, masyarakat pecinta lingkungan didorong memelihara bibit bakau agar bisa tumbuh, ketimbang hanya menanam untuk pencitraan. “Kami tidak ingin kalau menanam bibit bakau ini hanya untuk pencitraan, tapi langkah nyata ini supaya bisa hidup dan bertahan,” tegasnya.

            Salah seorang pemilik lahan tambak, Made Agra menyambut biak upaya rehabilitasi atau penanaman bakau di lahan tambak yang mulai mongering ini. Pria yang punya lahan 37 are dekat TPA Suwung itu juga dengan sukarela menyerahkan lahannya untuk dihijaukan, “Saya akan bantu menanam dan memelihara bibit bakau ini sehingga bisa tumbuh dengan baik.” Tegasnya.

            Ketua HUT ke-25 DKPH, yang juga Exceutive Asisten Manager DKPH Pandu Djojoadisoeprapto didampingi GM Jacques Clarijs mejelaskan, dalam acara tanggung jawab social perusahaan atau corporate social responsibility ( CSR ) pada sabtu lalu itu disiapkan 500 bibit bakau oleh FPM Bali. Bibit itu ditanam oleh 150 Karyawan DKPH, FPM, Artha Graha Peduli (AGP), dan masyarakat pecinta lingkungan. Kegiatan diawali dengan bersih-bersih di wilayah pesisir dengan mengumpulkan sampah plastic.

            Jacques Clarijs menyampaikan penanaman mangrove ini merupakan salah satu dari beberapa kegiatan kepedulian lingkungan yang dilakuakan dalam mengisi BUlan Bhakti Hut ke-25 DKPH seperti gotong royong membersihkan sampah di pantai Kuta, Penanaman pohon langka dan pelepasan anak penyu. “ Selain kepedulian lingkungan, peduli social juga kami lakukan, peduli social juga kami lakukan, pasar sembako murah, bantuan ke panti asuhan dan panti jompo, donor darah, bantuan kesehatan mata, dan mulut yang telah, dan akan dilakukan awal Oktober,” tandasnya. (101/r)

Save Mangrove, Save Earth

Mangroves Need Your Help. Are you ready to volunteer?

Top